KUNJUGAN
SANGIRAN
Pada tanggal 6 Maret 2017 siswa kelas X SMAN 2 MAGELANG melaksanakan
kegiatan pendidikan luar sekolah yang salah satunya mengunjugi museum sangiran.maka saya disini akan megulas sedikit tentang museum
sangiran.A.
Museum sangirana.wilayah museum sangiran Sangiran adalah sebuah situs arkeologi di Jawa,
Indonesia.Sangiran memiliki area sekitar 48 km². Secara fisiografis sangiran
terletak pada zona Central Depression, yaitu berupa dataran rendah yang
terletak antara gunung api aktif, Merapi dan Merbabu di sebelah barat serta
Lawu di sebelah timur.
Secara
administratif Sangiran terletak di Kabupaten Sragen (meliputi 3 Kecamatan yaitu
Kecamatan Kalijambe, Gemolong dan Plupuh serta Kecamatan Gondangrejo) dan
kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.Sangiran terletak di desa Krikilan, Kec.
Kalijambe ( + 40 km dari Sragen atau + 17 km dari Solo) situs ini menyimpan
puluhan ribu fosil dari jaan pleistocen ( + 2 juta tahun lalu). Situs
Sangiran merupakan daerah perbukitan yang mencakup kawasan seluas 32 km² dengan
bentangan arah dari utara ke selatan kurang lebih 8 km dan dari barat ke timur
kurang lebih 4 km². Daerah ini meliputi 12 kelurahan di 4 kecamatan, yaitu
kecamatan kalijember, gemolong, plupuh, dan godangrejo. Daerah sangiran
memiliki sebuah sungai yang membelah daerah tersebut menjadi dua yaitu kali cemara yang bermuara di
bengawan solo.
Fosil-fosil
purba ini merupakan 65 % fosil hominid purba di Indonesia dan 50% di seluruh
dunia. Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 13.685 fosil 2.931 fosil ada
di Museum, sisanya disimpan di gudang penyimpanan. Pada tahun 1977 Sangiran
ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar
budaya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
No.070/0/1977, tanggal 5 Maret 1977. Selanjutnya keputusan itu dikuatkan oleh
Komite World Heritage UNESCO pada peringatannya yang ke-20 di Merida, Mexico
yang menetapkan kawasan Sangiran sebagai kawasan World Heritage (warisan dunia)
No. 593.b.Sejarah Situs
Sangiran
Sejarah Museum Sangiran bermula dari kegiatan
penelitian yang dilakukan oleh Von Koeningswald sekitar tahun 1930-an. Di dalam
kegiatannya Von Koeningswald dibantu oleh Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan
pada masa itu.Setiap hari Toto Marsono atas perintah Von Koeningswald
mengerahkan penduduk Sangiran untuk mencari “balung buto” (Bahasa Jawa = tulang
raksasa).Demikian penduduk Sangiran mengistilahkan temuan tulang-tulang
berukuran besar yang telah membatu yang berserakan di sekitar ladang
mereka.Balung buto tersebut adalah fosil yaitu sisa-sisa organisme atau jasad
hidup purba yang terawetkan di dalam bumi. Fosil-fosil tersebut kemudian dikumpulkan
di Pendopo Kelurahan Krikilan untuk bahan penelitian Von Koeningswald, maupun
para ahli lainnya.Fosil-fosil yang dianggap penting dibawa oleh masing-masing
peneliti ke laboratorium mereka, sedang sisanya dibiarkan menumpuk di Pendopo
Kelurahan Krikilan. Setelah Von Koeningswald tidak aktif
lagi melaksanakan penelitian di Sangiran, kegiatan mengumpulkan fosil masih
diteruskan oleh Toto Marsono sehingga jumlah fosil di Pendopo Kelurahan semakin
melimpah.Dari Pendopo Kelurahan Krikilan inilah lahir cikal-bakal Museum
Sangiran. Untuk menampung koleksi fosil yang semakin
hari semakin bertambah maka pada tahun 1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati
Sragen membangun museum kecil di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten
Saragen di atas tanah seluas 1000 m². Museum tersebut diberi nama “Museum
Pestosen”. Seluruh koleksi di Pendopo Kelurahan Krikilan kemudian dipindahkan
ke Museum tersebut.Saat ini sisa bangunan museum tersebut telah dirombak dan
dialihfungsikan menjadi Balai Desa Krikilan. Sementara di Kawasan Cagar Budaya Sangiran
sisi selatan pada tahun 1977 dibangun juga sebuah museum di Desa Dayu,
Kecamatan Godangrejo, Kabupaten Karanganyar. Museum ini difungsikan sebagai
basecamp sekaligus tempat untuk menampung hasil penelitian lapangan di wilayah
Cagar Budaya Sangiran sisi selatan.Saat ini museum tersebut sudah dibongkar dan
bangunannya dipindahkan dan dijadikan Pendopo Desa Dayu. Tahun 1983 pemerintah pusat membangun
museum baru yang lebih besar di Desa Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan
Kalijambe, Kabupaten Sragen.Kompleks Museum ini didirikan di atas tanah seluas
16.675 m². Bnagunannya antara lain terdiri dari Ruang Pameran, Ruang Pertemuan/
Seminar, Ruang Kantor/ Administrasi, Ruang Perpustakaan, Ruang Storage, Ruang
Laboratorium, Ruang Istirahat/ Ruang Tinggal Peneliti, Ruang Garasi, dan Kamar
Mandi. Selanjutnya koleksi yang ada di Museum Plestosen Krikilan dan Koleksi di
Museum Dayu dipindahkan ke museum yang baru ini.Museum ini selain berfungsi
untuk memamerkan fosil temuan dari kawasan Sangiran juga berfungsi untuk
mengkonservasi temuan yang ada dan sebagai pusat perlindungan dan pelestarian
kawasan Sangiran. Tahun 1998 Dinas Praiwisata Propinsi Jawa
Tengah melengkaspi Kompleks Museum Sangiran dendan Bnagunan Audio Visual di
sisi timur museum.Dan tahun 2004 Bupati Sragen mengubah interior Ruang Knator
dan Ruang Pertemuan menjadi Ruang Pameran Tambahan. Tahun 2003 Pemerintah pusat merencanakan
membuat museum yang lebih representative menggantikan museum yang ada secara
bertahap.Awal tahun 2004 ini telah selesai didirikan bangunan perkantoran tiga
lantai yang terdiri dari ruang basemen untuk gudang, lantai I untuk
Laboratorium, dan lantai II untuk perkantoran. Program selanjutnya adalah
membuat ruang audio visual, ruang transit untuk penerimaan pengunjung, ruang
pameran bawah tanah, ruang pertemuan, perpustakaan, taman purbakala, dan
lain-lain.c.Pembagian
Ruang Di Museum Sangiran
1. Ruang Pamer 1
bertemakekayaan Sangiran dan berbagai fosil yang ditemukan di daerah Sangiran oleh Prof. Dr. Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald dan sejumlah peneliti lainnya. Di Ruang ini banyak fosil yang berhasil ditemukan, antara lain fosil binatang darat (gajah, harimau, dll), binatang air (kudanil, buaya, dll), bebatuan dan berbagai peralatan yang terbuat dari batu yang dulu pernah dibuat dan digunakan manusia purba yang tinggal di Sangiran. Di Ruang Pamer 1, juga terdapat buku kegiatan digital yang berisi tentang Evolusi Manusia Purba. Buku ini berisi tentang Teori Darwin, Teori Migrasi dan tokoh lainnya lengkap dengan penjelasan mengenai temuan.
2. Ruang Pamer 2
bertema Langkah-Langkah Kemanusiaan dan berisi diorama manusia purba serta profil para peneliti Indonesia setelah merdeka. Langkah-langkah kemanusiaan dijelaskan pada teori evolusi.Mulai dari Seleksi Alam, Adaptasi danVariasi. Seleksi Alammenjelaskan tentang keturunan suatu makhluk tampaknya sama dengan induk atau saudaranya, kemudian makhluk yang mampu menyesuaikan diri (adaptasi) akan bertahan hidup dan hingga bisa menciptakan suatu variasi.Setiap makhluk yang dilahirkan itu mempunyai unsur keturunan masing-masing, unik. Di Ruang Pamer 2, di sini terdapat beberapa diorama lain dari yang lain. Terdapat diorama G.H.R. von Koenigswald .Seorang geolog dan salah satu penemu tengkorak “Sangiran II” yang kemudian disebut sebagai Pithecanthropus erectus. Koenigswald terlihat gagah, tapi bajunya sepertinya terlalu kecil.Selain diorama para penetili, terdapat patung manusia purba.Patung Manusia purba disajikan seakan-akan menggambarkan kegiatan mereka ketika masa itu.Disana tampak menggambarkan menyalakan api dengan sebuah alat. Menurut keterangan dari pemandu, meski ada patung yang menggambarkan sedang menyalakan api, namun sampai sekarang belum ditemukan fosil alat yang digunakan untuk menyalakan api. Entah itu menggunakan batu atau sejenisnya, tapi sampai sekarang belum ditemukan.Masih banyak patung yang menggambarkan kegiatan mereka pada jaman dahulu, misalnya; berburu, masak dan makan bersama.
3. Ruang Pamer 3
bertema tentang Homo Erectus dan berisi replika kehidupan species Homo erectus. Pada tahun 2004, ditemukan sisa-sisa prasejarah dari goa Leang Boa di Flores yang kemudian terkenal dengan namaHomo Floresiensis. Temuan ini menggemparkan dunia, karena dia merupakan individu dewasa tetapi berpostur pendek, dengan tinggi bandan kira-kira 106 cm. Hidup pada 18.000-13.000 tahun yang lalu. Berdasarkan penelitian perkakas yang ditemukan, Homo Floresiensis tergolong manusia yang cerdas, mampu menggunakan alat kayu dan bambu sebagai alat utama untuk mengadakan pemburuan.d.Koleksi Fosil Disangiran
Sejarah Museum Sangiran bermula dari kegiatan
penelitian yang dilakukan oleh Von Koeningswald sekitar tahun 1930-an. Di dalam
kegiatannya Von Koeningswald dibantu oleh Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan
pada masa itu.Setiap hari Toto Marsono atas perintah Von Koeningswald
mengerahkan penduduk Sangiran untuk mencari “balung buto” (Bahasa Jawa = tulang
raksasa).Demikian penduduk Sangiran mengistilahkan temuan tulang-tulang
berukuran besar yang telah membatu yang berserakan di sekitar ladang
mereka.Balung buto tersebut adalah fosil yaitu sisa-sisa organisme atau jasad
hidup purba yang terawetkan di dalam bumi. Fosil-fosil tersebut kemudian dikumpulkan
di Pendopo Kelurahan Krikilan untuk bahan penelitian Von Koeningswald, maupun
para ahli lainnya.Fosil-fosil yang dianggap penting dibawa oleh masing-masing
peneliti ke laboratorium mereka, sedang sisanya dibiarkan menumpuk di Pendopo
Kelurahan Krikilan. Setelah Von Koeningswald tidak aktif
lagi melaksanakan penelitian di Sangiran, kegiatan mengumpulkan fosil masih
diteruskan oleh Toto Marsono sehingga jumlah fosil di Pendopo Kelurahan semakin
melimpah.Dari Pendopo Kelurahan Krikilan inilah lahir cikal-bakal Museum
Sangiran. Untuk menampung koleksi fosil yang semakin
hari semakin bertambah maka pada tahun 1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati
Sragen membangun museum kecil di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten
Saragen di atas tanah seluas 1000 m². Museum tersebut diberi nama “Museum
Pestosen”. Seluruh koleksi di Pendopo Kelurahan Krikilan kemudian dipindahkan
ke Museum tersebut.Saat ini sisa bangunan museum tersebut telah dirombak dan
dialihfungsikan menjadi Balai Desa Krikilan. Sementara di Kawasan Cagar Budaya Sangiran
sisi selatan pada tahun 1977 dibangun juga sebuah museum di Desa Dayu,
Kecamatan Godangrejo, Kabupaten Karanganyar. Museum ini difungsikan sebagai
basecamp sekaligus tempat untuk menampung hasil penelitian lapangan di wilayah
Cagar Budaya Sangiran sisi selatan.Saat ini museum tersebut sudah dibongkar dan
bangunannya dipindahkan dan dijadikan Pendopo Desa Dayu. Tahun 1983 pemerintah pusat membangun
museum baru yang lebih besar di Desa Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan
Kalijambe, Kabupaten Sragen.Kompleks Museum ini didirikan di atas tanah seluas
16.675 m². Bnagunannya antara lain terdiri dari Ruang Pameran, Ruang Pertemuan/
Seminar, Ruang Kantor/ Administrasi, Ruang Perpustakaan, Ruang Storage, Ruang
Laboratorium, Ruang Istirahat/ Ruang Tinggal Peneliti, Ruang Garasi, dan Kamar
Mandi. Selanjutnya koleksi yang ada di Museum Plestosen Krikilan dan Koleksi di
Museum Dayu dipindahkan ke museum yang baru ini.Museum ini selain berfungsi
untuk memamerkan fosil temuan dari kawasan Sangiran juga berfungsi untuk
mengkonservasi temuan yang ada dan sebagai pusat perlindungan dan pelestarian
kawasan Sangiran. Tahun 1998 Dinas Praiwisata Propinsi Jawa
Tengah melengkaspi Kompleks Museum Sangiran dendan Bnagunan Audio Visual di
sisi timur museum.Dan tahun 2004 Bupati Sragen mengubah interior Ruang Knator
dan Ruang Pertemuan menjadi Ruang Pameran Tambahan. Tahun 2003 Pemerintah pusat merencanakan
membuat museum yang lebih representative menggantikan museum yang ada secara
bertahap.Awal tahun 2004 ini telah selesai didirikan bangunan perkantoran tiga
lantai yang terdiri dari ruang basemen untuk gudang, lantai I untuk
Laboratorium, dan lantai II untuk perkantoran. Program selanjutnya adalah
membuat ruang audio visual, ruang transit untuk penerimaan pengunjung, ruang
pameran bawah tanah, ruang pertemuan, perpustakaan, taman purbakala, dan
lain-lain.c.Pembagian
Ruang Di Museum Sangiran1. Ruang Pamer 1
bertemakekayaan Sangiran dan berbagai fosil yang ditemukan di daerah Sangiran oleh Prof. Dr. Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald dan sejumlah peneliti lainnya. Di Ruang ini banyak fosil yang berhasil ditemukan, antara lain fosil binatang darat (gajah, harimau, dll), binatang air (kudanil, buaya, dll), bebatuan dan berbagai peralatan yang terbuat dari batu yang dulu pernah dibuat dan digunakan manusia purba yang tinggal di Sangiran. Di Ruang Pamer 1, juga terdapat buku kegiatan digital yang berisi tentang Evolusi Manusia Purba. Buku ini berisi tentang Teori Darwin, Teori Migrasi dan tokoh lainnya lengkap dengan penjelasan mengenai temuan.
2. Ruang Pamer 2
bertema Langkah-Langkah Kemanusiaan dan berisi diorama manusia purba serta profil para peneliti Indonesia setelah merdeka. Langkah-langkah kemanusiaan dijelaskan pada teori evolusi.Mulai dari Seleksi Alam, Adaptasi danVariasi. Seleksi Alammenjelaskan tentang keturunan suatu makhluk tampaknya sama dengan induk atau saudaranya, kemudian makhluk yang mampu menyesuaikan diri (adaptasi) akan bertahan hidup dan hingga bisa menciptakan suatu variasi.Setiap makhluk yang dilahirkan itu mempunyai unsur keturunan masing-masing, unik. Di Ruang Pamer 2, di sini terdapat beberapa diorama lain dari yang lain. Terdapat diorama G.H.R. von Koenigswald .Seorang geolog dan salah satu penemu tengkorak “Sangiran II” yang kemudian disebut sebagai Pithecanthropus erectus. Koenigswald terlihat gagah, tapi bajunya sepertinya terlalu kecil.Selain diorama para penetili, terdapat patung manusia purba.Patung Manusia purba disajikan seakan-akan menggambarkan kegiatan mereka ketika masa itu.Disana tampak menggambarkan menyalakan api dengan sebuah alat. Menurut keterangan dari pemandu, meski ada patung yang menggambarkan sedang menyalakan api, namun sampai sekarang belum ditemukan fosil alat yang digunakan untuk menyalakan api. Entah itu menggunakan batu atau sejenisnya, tapi sampai sekarang belum ditemukan.Masih banyak patung yang menggambarkan kegiatan mereka pada jaman dahulu, misalnya; berburu, masak dan makan bersama.
3. Ruang Pamer 3
bertema tentang Homo Erectus dan berisi replika kehidupan species Homo erectus. Pada tahun 2004, ditemukan sisa-sisa prasejarah dari goa Leang Boa di Flores yang kemudian terkenal dengan namaHomo Floresiensis. Temuan ini menggemparkan dunia, karena dia merupakan individu dewasa tetapi berpostur pendek, dengan tinggi bandan kira-kira 106 cm. Hidup pada 18.000-13.000 tahun yang lalu. Berdasarkan penelitian perkakas yang ditemukan, Homo Floresiensis tergolong manusia yang cerdas, mampu menggunakan alat kayu dan bambu sebagai alat utama untuk mengadakan pemburuan.d.Koleksi Fosil Disangiran
1.Fosil manusia
antara lain Australopithecus africanus , Pithecanthropus mojokertensis(Pithecantropus robustus ), Meganthropus palaeojavanicus , Pithecanthropus erectus, Homo soloensis , Homo neanderthal Eropa, Homo neanderthal Asia, dan Homo sapiens .
2. Fosil binatang bertulang belakang
antara lainElephas namadicus (gajah), Stegodon trigonocephalus(gajah), Mastodon sp (gajah),bubalus palaeokarabau,felis,palaeojavanika (harimau),sussp(babi),rhinoceros sondaicus(badak),bovidae(banteng,sapi),cervus sp(rusa dan domba.
3. Fosil binatang air,antara lain crocodiles sp(buaya),ikan dan kepiting,gigi ikan hiu hippopotamus sp (kuda nil),mollusca (kelas pelecypoda dan gastoproda).
4. Batu-batuan , antara lain Meteorit/Taktit, Kalesdon, Diatome, Agate, Ametis5. Alat-alat batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak.6.Koleksi lainya
a)Fosil kayu fosil ini ditemukan di Dukuh Jambu Desa Dayu Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar.Ditemukan pada tahun 1995 pada lapisan tanah lempug warna abu abu.
b) Tulang hasta (Ulna) Stegodon Trigonocephalus Ditemukan di Kawasan Cagar Sangiran pada tanggal 23 November 1975 di tanah lapisan lempung warna abu abu.
d) Tulang kerbauDitemukan oleh Tardi Pada tanggal 20 November 1992 di Dukuh Tanjung, Desa Dayu Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar pada lapisan tanah Warna coklat kekuning-kunginan yang bercampur pasir ditemukan formasi kabuh berdasarkan penanggalan geologi berumur 700.000-500 tahun.
e) Gigi Elephas NamadicusDitemukan di Situs Cagar Budaya Sangiran Pada tanggal 12 Desember 1975, Pada lapisan tanah pasir bercampur kerikil berwarna cokelat ditemukan pada Formasi kabuh.
f) Tulang rusuk (casta) stegodon trigonochepalus.Ditemukan oleh Supardi pada tanggal 3 Desember 1991 di Dukuh Bukuran, Desa Bukuran Kecamatan kalijambe Kabupaten Sragen pada lapisan lempung warna abu – abu dari endapan pucangan atas.





